Rabu, 19 Juni 2013

benih

ACARA 1
                                PENGUMPULAN BIJI                               
BAB I

PENDAHULUAN



1.1      Latar Belakang
Keberhasilan program permudaan untuk permudaan kembali tergantung pada pengumpulan biji. Kualitas hutan yang dihasilkan ditentukan dari biji yang berkualitas baik. Namun, kendalanya biji pohon sulit dan kadang-kadang berbahaya untuk dikumpulkan. Biji terbentuk paling banyak (melimpah) pada pohon-pohon dominan besar dan biasanya paling berlimpah pada tajuk atas dan menengah pada percabangan atas. Sayangnya pohon-pohon yang menghasilkan biji paling berlimpah sering pohon-pohon yang berfenotif tidak diinginkan yang mempunyai percabangan besar dan berat. Pohon-pohon yang tinggi, lurus dan sedikit bercabang sulit untuk dipanjat dan menghasilkan biji lebih sedikit. Konsekuensinya, apabila jumlah biji dalam skala diperlukan mengandung resiko bahwa kemungkinan biji dikumpulkan dari pohon-pohon yang berkualitas jelek.
Pengumpulan biji biasanya dihasilkan pada saat pelaksanaan pemungutan hasil (logging). Tetapi biasanya sulit untuk menjadwal pemungutan pohon pada areal yang luas sedemikian bersama waktu dengan kemasakan biji. Bebrapa biji didapatkan dengan melakukan pemanjatan pohon, tetapi cara ini mahal dan berbahaya. Walaupun demikian, karena cara ini merupakan cara yang penting agar silvikulturis dapat memberikan garansi kualitas biji dalam hal karakteristik pohon induk dan waktu pengumpulan menjamin kemasakan biji, dan karena viabilitas biji, sekarang ini banyak dilakukan pengumpulan biji dengan cara pemanjatan pohon.
            Untuk mendapatkan biji yang berkualitas baik dapat diperoleh dari beberapa sumber biji/benih. Sumber biji/benih tersebut dapat berasal dari tempat, lokasi pohon ataupun tegakan yang dapat menjamin menghasilkan kualitas benih yang baik.
            Pohon yang memproduksi benih yang cukup banyak, bisa berupa pohon-pohon penyusun tegakan, pohon-pohon individu (misalnya dipekarangan, tepi jalan), dan bisa juga pohon sebagai penyusun hutan baik hutan alam maupun hutan buatan. Umumnya pohon biji yang ditunjuk tersebut mempunyai kelebihan dibandingkan dengan pohon-pohon lain yang sama jenisnya namun kualitas lebih baik. Kualitas yang dimaksud berupa sifat yang tampak (fenotif) misalnya kelurusan batang, kerampingan tajuknya, keindahan percabangannya, tidak ada gejala percabangan menggarpu dan lain-lain. Apabila benih yang diperoleh dari pohon biji yang berfenotif baik, maka benih yang dihasilkan oleh pohon biji tersebut mestinya lebih baik bila dibandingkan yang dihasilkan oleh pohon biji sembarang (tanpa melihat fenotipenya).



1.2      Tujuan Praktikum
1.      Untuk mengetahui metode pengumpulan biji
2.      Untuk mengetahui kualitas induk pohon penghasil biji/ benih yang baik










 


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA


                Pengumpulan biji dari pohon induk dilakukan pada pohon yang mempunyai kualitas fenotip yang baik. Pohon induk yang dapat dijadikan sebagai sumber biji dapat berasal dari tegakan alami, pohon benih, pohon individu misalnya pohon ditepi jalan. Kualitas tersebut berupa kelurusan batang, keindahan percabangan, kerampingan tajuk, tidak ada gejala percabangan menggarpu, tidak ada hama dan penyakit (Anwar, 2003).
            Biji menurut Sutopo (1995) adalah suatu ovale yang telah masak yang mengandung tanaman mini atau embrio yang terbentuk dari persatuan sel-sel generatif (gamet) di dalam kandungan embrio, serta membawa informasi genetic dari tanaman induk yang akan menentukan kualitas tanaman baru. Biji merupakan factor penting yang akan menentukan kualitas tanaman, karena itu dalam proses pengumpulan biji dari pohon induk yang penting adalah pohon induk harus mempunyai kualitas yang baik.
            Pada pengumpulan biji hindari mengambil buah yang jatuh pertama kali, karena sering kali kecil, kurang daya berkecambah, dan sudah dimangsa kumbang penggerek. Tunggu sebagian besar matang, biasanya hasil terbaik didapat dari hasil pemetikan langsung dari pohon.
            Pengumpulan biji secara langsung dibawah tegakan pohon induk tidak dapat menjamin kualitas biji yang dihasilkan. Karena tidak ada informasi tentang kemasakan biji, resiko tercampur dengan biji jenis lain, dan biji yang telah jatuh lama ditanah beresiko terserang hama dan penyakit. Oleh karena itu, metode pengambilan biji dengan cara memanjat pohon secara langsung merupakan metode terbaik, dimana biasanya biji yang diambil adalah biji-biji yang telah matang, berkenampakan baik, dan pohon induk dapat dipilih. (Marsono;djoko, 1987)
Pemanenan biji hendaknya dilakukan pada saat masak fisiologis dengan warna coklat tua, atau hijau kecoklatan, dan berkadar air 7,2 % untuk Acacia mangium masa pertumbuhan yang baik adalah bulan Agustus September dan bulan Maret Apri. (Khaerudin, 1999)
            Biji dari buah yang matang dipohon bagus bila mempunyai bentuk normal dan berukuran besar. Untuk menentukan benih yang baik dan benar dapat direndam didalam air, bila biji tenggelam berarti daya kecambah lebih besar dari yang terapung. (Wudianto,2000)
Beberapa biji didapatkan dengan melakukan pemanjatan pohon, tetapi cara ini mahal dan berbahaya. Walaupun demikian, karena cara ini merupakan cara yang penting agar silvikulturis dapat membrikan garani kualitas biji dalam hal karakteristik pohon induk dan waktu pengumpulan yang menjamin kemasakan biji, dan karena viabilitas biji, sekarang ini banyak dilakukan pengumpulan biji dengan cara pemanjatan pohon.



















BAB III

METODOLOGI


3.1  Waktu dan Tempat
Waktu :   April 2012
Tempat : Belakang rektorat

3.2  Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam kegiatan ini adalah pohon induk yang sedang berbuah, seperti pohon akasia, sengon, dll
            Alat yang digunakan yaitu bambu/ galah untuk mengambil buah yang tinggi, kantong kertas untu wadah buah yang telah dikumpulkan, timbangan analitik, hagameter, d-tape.

3.3    Cara kerja
1)      Mencari pohon yang sedang berbuah, lalu menentukan pohon mana yang akan diambil buahnya berdasarkan pertimbangan kualitas pohon induk.
2)      Mengambil buah yang ada dipohon dengan cara dipanjat, menggunakan bantuan galah/bambu untuk yang berada dibagian pohon yang tinggi, juga dengan cara memungut buahnya yang jatuh di tanah disekitar pohon induk.
3)      Mencatat kondisi pohon induk yang menghasilkan buah tersebut (fenotipe), meliputi tinggi pohon, diameter batang, diameter tajuk, kelurusan batang, tinggi bebas cabang, menggarpu/tidak.
4)      Mencatat kriteria buah yang masak berdasarkan kenampakan fisiknya, seperti bentuk, warna buah, kekerasan/kelunakan, merekah / tidak.
5)      Mengeluarkan biji yang ada dalam buah tersebut, lalu segera menimbang per 100 biji untuk mengetahui berat segar biji tersebut per 100 biji. Perlakuan ini dilakukan sebanyak 3 kali ulangan untuk diambil rata-ratanya.
6)      Menghitung biji yang ada per 100 gr untuk mengetahui berapa jumlah biji yang ada. Dilakukan sebanyak 3 kali ulangan untuk diambil rata-ratanya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  






 


BAB IV

HASIL DAN  PEMBAHASAN


4.1 Hasil
1. Kenampakan Fisik (Fenotif) Pohon Induk

Pohon
Tinggi
TBC
Diameter
Diameter
Kelurusan
Menggarpu

(m)
(m)
Batang (cm)
Tajuk (m)
batang
/ tidak
Sengon 1
12
5
29
1,37
lurus
tidak
Sengon 2
30
2
70
3,82
bengkok
tidak

2. Kenampakan Fisik (Fenotif) Buah

Pohon
Bentuk
Warna
Keras/Lunak
Merekah/Tidak
Sengon 1
Polong
Coklat
Lunak
Merekah
Sengon 2
Polong
Coklat
Keras
Merekah

3.  Berat biji per 100 biji

Pohon
Berat 1 (gr)
Berat 2 (gr)
Berat 3 (gr)
Rata-rata (gr)
Sengon 1
2,8
2,33
2,48

Sengon 2
2,39
2,47
2,48

acacia
0,86
0,96
0,44


4.  Jumlah biji per 100 gram
Pohon
Berat 1 (gr)
Berat 2 (gr)
Berat 3 (gr)
Rata-rata (gr)
Sengon 1
3900
3750
3700

Sengon 2
3200
3350
3300

acacia
11100
11090
1120
11103
4.2 Pembahasan
Berdasarkan data hasil pengamatan yang dilakukan oleh praktikan dari proses penguduhan benih, dapat dijelaskan bahwa dari kedua pohon Sengon berdasarkan criteria kenampakan fisik (fenotipe) pohon induk ,maka dapat diketahui pohon dari kelompok kedua dengan tinggi pohon 12 m, tinggi bebas cabang 5 m, diameter batang 29 cm, diameter tajuk 1,37, kelurusan batang lurus. Dan tinggi pohon pada kelompok kedua adalah 30, tinggi bebas cabang 2m dimeter tajuk 3,82cm dengan kelurusan batang bengkok dan tidak menggarpu. Maka yang dapat dijadikan sebagai pohon penghasil biji yang baik adalah pohon pada kelompok kedua. Pertimbangan ini didasarkan pada kelurusan batang, percabangan tidak menggarpu, tidak adanya hama dan penyakit (Anwar, 2003).
Dari beberapa criteria ini diharapkan bila dijadikan pohon lebih akan menghasilkan tegakan yang sama dengan pohon induknya. Disamping itu dari hasil kenampakan fisik (fenotipe) biji berwarna coklat, bentuk lonjong dan mempunyai biji yang keras (Khaerudin,1999). Berat rata-rata benih per seratus biji pada pohon kelompok kedua adalah 1,87, pada kelompok keempat adalah 1,87. Hal ini juga terlihat dari jumlah biji per 100 gram yang menunjukkan jumlah yang banyak pada Acacia kelompok keempat yaitu 10900 biji.
Pada praktikan ini proses pengambilan biji dilakukan dengan cara memilih pohon induk yang berkenampakan baik, kemudian pengambilan biji dilakukan dengan mengambil langsumg dari pohon dengan cara memanjat. Meskipun cara ini merupakan cara yang sulit dan mahal serta beresiko tinggi, namun cara ini merupakan cara yang terbaik. Karena dengan pengambilan biji secara lanhsung kualitas biji yang dipilih lebih baik, kemasakan biji lebih terjamin, viabilitas biji lebih baik dan ada jaminan pohom induk yang bila dibandingkan dengan pengambilan biji dengan menggnakan gala atau pengambilan biji yang telah jatuh di bawah pohon induk, cara pengambilan langsung adalah lebih baik karena tidak ada kemungkinan tercampur dengan yang lain.
Dari data tersebut dapat dilihat bahwa benih sampel memiliki kualitas yang cukup baik untuk dapat digunakan sebagai alat perkembangbiakan jenis lamtoro tersebut. pengambilan benih tersebtu waktunya sangat tepat (biji masak) dan pada saat penyimpanan tidak merusak kualitas benih tersebut dengan kata lain biji tidak dijemur di bawah terik matahari ataupun biji tidak dilembabkan.
           

BAB V

KESIMPULAN


5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil tersebut dapat kita ambil kesimpulan bahwa :
  1. Pohon Kedua dapat dijadikan pohon penghasil biji yang baik karena biji yang dihasilkan adalah biji yang bagus.
  2. pohon yang bagus untuk sebagai sumber biji adalah pohon yang memiliki buah yang melimpah.
metode dengan cara memanjat sangat baik dilakukan karena kita dapat memilih biji yang berkualitas sebagai biji yang akan digunakan.
3  Pengumpulan biji secara langsung dibawah tegakan pohon induk tidak dapat menjamin kualitas biji yang dihasilkan. Karena tidak ada informasi tentang kemasakan biji, resiko tercampur dengan biji jenis lain,

5.2    Saran
Penentuan pohon induk sebagai pohon biji hendaknya tidak dilaksanakan disekitar kampus karena pohon-pohon disekitar kampus kebanyakan belum / tidak memenuhi kriteria pohon benih, bila hal ini tetap dilaksanakan seperti yang telah praktikan amati penentuan pohon biji terkesan hanya pada pohon yang sudah berbuah tanpa melihat kondisi pohon secara fisik / fenotifnya.Selain itu perlu juga untuk menambah alat –alat agar lebih mudah dan cepat dalam melakukan pengamatan





DAFTAR PUSTAKA


Anonim. 2011. Penuntun Praktikum Silvikultur. Fakultas Pertanian. Universitas Bengkulu. Bengkulu.

Anwar, Guswarni. Mp. 2002. Buku Ajar Silvikultur. Fakultas Pertanian. Universitas Bengkulu. Bengkulu

Marsono, Djoko. Dr.Ir.1987. Prinsip-Prinsip Silvikultur. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta

Sutopo, L.1985. Teknik Benih. CV. Rajawali: Jakarta









ACARA 2
PENGUJIAN MUTU BENIH
BAB I
PENDAHULUAN


1.1.  Latar Belakang
Dalam suatu program  penghutanan perlu adanya persediaan bibit yang berkualitas baik. Hal ini tidak hanya pada kualitas fisik, tetapi juga  adanya suatu induk yang  yang dapat menurunkan  sifat dan hasil yang baik. Oleh karena itu dalam  pembibitan perlu diadakan pengujian mutu benih, agar diperoleh anakan pohon yang  berkualitas sesuai dengan yang diharapkan.
            Keberhasilan kebanyakan program penghutanan kembali tergantung pada  pengumpulan biji. Dalam  tahun-tahun  terakhir terdapat tambahan perhatian untuk  mengumpulkan biji berkualitas baik  dan dengan demikian mampu meningkatkan kualitas hutan yang dihasilkan. Sayangnya, biji dari beberapa pohon unggulan, seperti dari jenis Dipterocarpaceae sulit diperoleh karena musim berbunga dan berbuahnya yang tidak teratur. Selain itu, beberapa jenis pohon ungggulan juga mempunyai biji yang bersifat rekalsitran, sehingga tidak dapat disimpan lama dan memerlukan perlakuan yang khusus. Bahkan, sering kali untuk mendapatkan biji yang berkualitas diperlukan teknik pengambilan yang tidak jarang hanya mampu menghasilkan jumlah biji yang sedikit.  
Kebanyakan, pohon-pohon yang menghasilkan biji yang berlimpah biasanya pohon yang berfenotif   tidak diinginkan  yang mempunyai percabangan  besar dan berat. Pohon-pohon yang tinggi  ,lurus dan sedikit bercabang sulit untuk  dipanjat dan menghasilkan biji yang lebih sedikit. Biji harus diuji untuk menentukan jumlah  yang ditabur per satuan  luas agar mendapatkan taksiran jumlah  semai yang sehat
Benih atau biji sangat menentukan dalam setiap perbanyakan tanaman baik dalam bidang kahutanan atau pertanian. Dalam bidang kehutanan seleksi atau pemilihan dari benih akan menentukan baik buruknya setiap tegakan yang muncul. Adalah hal yang wajar bila setiap orang yang mengusahakan lahan tanaman akan menghasilkan sesuatu yang memuaskan dan memberikan hasil yang lebih. Tetapi tak jarang juga ada orang yang mengusahakan lahan yang tidak mendapatkan hasil seperti yang diharapkan. Hal tersebut banyak faktor yang menyebabkan hal itu terjadi, mungkin perawatan yang kurang baik atau kualitas biji yang digunakan tidak yang baik. Bila masalah benih yang digunakan maka dapat terjadi benih tersebut bukan benih yang unggul atau sewaktu benih tersebut digunakan belum mengalami masak fisiologis sehingga vigor benih belum maksimal dan kadar airnya masih terlalu tinggi.
Dalam masalah perbanyakan benih hal tersebut diatas juga sangat penting untuk diperhatikan, karena tanpa memperhatikan mutu benih yang digunakan sebaga seleksi, perbanyakan tanaman merupakan hal yang sangat mustahil. Sehingga dengan memperhatikan hal yang telah dikemukakan diatas maka pengujian mutu benih merupakan hal yang penting dalam penyeleksian benih, yang bertujuan hasil yang diperoleh baik dikebun-kebun benih maupun pada benih yang sudah disemai akan berhasil dengan baik dan bermutu tinggi.


1.2.  Tujuan
  1. Untuk mengetahui teknik – teknik menentukan mutu benih kehutanan.
  2. Untuk  mengetahui tingkat daya kecambah ( uji fisiologi ) dari benih yang telah diuji kualitasnya secara fisik.









BAB II

TINJAUAN PUSTAKA


            Pada sistem silvikultur yang bertumpu pada perbijian alam, kita harus melibatkan diri dengan peramalan kemungkinan bahwa lapisan tajuk atas tegakan atau tetangganya memberikan biji berjumlah cukup dan berkualitas dari genotif yang diinginkan pada waktu yang dikehendaki. Metode reproduksi yang menghendaki perbijian atau penanaman langsung mengharuskan kegiatan pengumpulan dan pemprosesan awal sejumlah biji berkualitas yang mencukupi untuk kebutuhan penghutanan kembali (Baker,1992).
            Biji atau benih adalah hasil perkembangan dari bakal biji yang telah dibuahi, yang biasanya terdiri dari pembungkusan benih atau selaput benih (seed coat), cadangan makanan dan embrio yang krtiganya bersifat alami (Mugnisyah, 1996).
            Pengujian benih  ditujukan untuk mengetahui mutu atau kualitas benih. Informasi tersebut tentunya akan sangat bermanfaat bagi  produsen, penjual maupun konsumen benih ( Lita Sutopo, 1985).
Benih yang bermutu tinggi yang berasal dari berbagai varietas / klon merupakan salah faktor penting yang akan menentukan tinggi rendahnya produksi tanaman, maka sebelum menanam carilah benih yang baik. Biji yang bagus, baik yang kering maupun basah, harus sifat-sifat yang daya tumbuhnya tinggi, tampak sesuai dengan jenis atau varietas yang asli dan cukup murni, kesehatan baik dan ukurannyan  sedang (Suhardi,1986)
Laju kemunduran suatu benih juga dipengaruhi oleh kadar air benih itu sendiri. Sutopo (1985), menyatakan bahwa kadar air benih yang optimum adalah antara 6-8 %, kadar air yang tinggi menyebabkan benih berkecambah sebelum ditanam namun juga dapat merangsang timbulya cendawan. Metode pengujan kadar air benih secara langsung dengan cara memasukkan benih kedalam open pada kisaran suhu 130 0 C  selama beberapa menit, metode open pada suhu 105  0 C dilakukan beberapa jam.
Viabilitas benih atau daya hidup benih yang dicerminkan oleh dua informasi masing-masing daya kecambah dan kekuatan tunbuh dapat ditunjukkan melalui gejala metabolisme benih dan atau gejala pertumbuhan. Uji viabilitas benih dapat dilakukan secara tak langsung dengan mengamati dengan membandingkan unsur-unsur tumbuh penting dari benih  dalam suatu periode tumbuh tertentu (Lita Sutopo, 1985).
Pengujian benih ditujukan untuk mengetahui mutu dan kualitas benih. Viabilitas atau daya hidup benih dicerminkan oleh dua informasi masing masing daya kecambah dan kekuatan tumbuh dapat ditunjukkan melalui gejala metabolisme benih atau gejala pertumbuhan. Dalam melaksanakan pengujian benih yang pertama dilakukan adalah pengambilan contoh benih, setelah itu pengujian kemurnian dan kadar air benih, kemudian baru dilakukan uji daya kecambah dan uji kekuatan tumbuh benih.Pada uji viabilitas benih, baik uji daya kecambah atau uji kekuatan tumbuh benih, penilaian dilakukan dengan membandingkan  kecambah satu dengan yang lain dalam satu substrat. (Lita, 1984)
Mutu benih adalah hal yang paling penting dalam usaha produksi benih , dalam industri benih pengendalian mutu benih meliputi 3 aspek penting yaitu:
1.      Penetapan standar minimum mutu benih
2.      perumusan dan implementasi system dan prosedur untuk mencapai standar mutu yang telah ditetapkan
3.      Pendekatan sistematik untuk mengidentifikasi sebab adanya masalah terhadap mutu dan cara pemecahannya
Sertifikasi benih adalah suatu sistem atau mekanisme pengujian benih berkala untuk mengarahkan, mengendalikan dan mengorganisasikan perbanyakan produksi benih.(Wahyu, 1991)
             Uji biji biasanya  dilakukan terhadap sifat-sifat sebagai berikut :
1.      Keaslian biji.  Biji harus benar namanya dan  perlu dibandingkan dengan  contoh yang diketahui untuk pengesahan identitas  botanisnya.
2.      Kemurnian. Jumlah kotorang pada sejumlah biji harus diketahui, biji dalam satu wadah relatif tidak murni  disebabkan karena potongan-potongan sisik kerucut, sayap, daun, sekam dan kotoran lain.
3.      Jumlah per kg. Hal ini biasanya  dinyatakan sebagai jumlah biji murnu per kg.
4.      Kadar air. Ukuran ini memberikan petunjuk kondisi tempat biji disimpan dan suatu indeks kualitas. Biji yang terlalu kering atau basah  mengurangi umur hidup biji dalam simpanan.
5.      Viabilitas. Viabilitas dipengaruhi terutama olej kemasakan biji pada waktu pemungutan, oleh karena kerusakan  karena penanganan selam proses pembersihan, dan oleh lamanya periode penyimpanan. Viabilitas biji biji bisa diuji secara fisik, fisiologis atau kebanyakan secsra langsung dan dapat dipercaya dengan uji perkecambahan yang sebenarnya.

Penundaan masa panen sesudah masak fisiologis akan menyebabkan timbulnya banyak kejelekan, seperti :
1. menurunnya mutu biji
2. menurunnya hasil
3. kerusakan biji oleh fungi atau hama
4. kerontokan biji
5. kerebahan

Sehingga tiba masa masak fisologis maka pada saat itu juga pemanenan harus juga dilakukan. Selain masak fisiologis dan kadar air, berat kering atau seed dry weight, penting karena erat hubungannya dengan hasil yang diperoleh. Jurnalis kamil berpendapat bahwa : “ tinggi rendahnya berat kering ini tergantung dari bayak atau sedikitnya bahan kering yang terdapat dalam biji. Berat kering ini umumnya terdiri dari tiga bahan dasar yaitu karbohidrat, protein dan lemak yang terutama terdapat pada jaringan endosperm.”Berat kering mencapai maksimum terjadi setelah fertilisasi. Pada masa itu adalah masak fisiologis dan transfer zat makanan pada biji dihentikan. Pad saat ini sebaiknya dilakukan pemanenan, karena bila pemanenan ditunda berat kering akan turun. Berat kering akan turun disebabkan proses pernafasan masih berlangsung, terjadinya perombakan zat makanan pada endosperm atau kotiledon dan transfer zat makanan telah dihentikan. Pemanenan yang tepat waktu juga berpengaruh pada viabilitas biji , karena daya kecambahkan meningkat dengan bertambah tuanya biji atau mencapai maksimum germination sebelum masak fisiologis tercapai, tetapi sesudah itu akan menurun dengan kecepatan yang sesuai dengan kondisi lapangan. Oleh karena itu pemanenan jangan terlalu lambat, (Jurnalis kamil, 1982}.























BAB III

METODOLOGI

           

3.1. Tanggal dan Tempat pelaksanaan
Waktu  : April 2012
Tempat : Laboratorium  Kehutanan Universitas Bengkulu.

3.2. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan  yaitu cutter/let, loupe (kaca pembesar), oven, timbangan, bak kecambah.
            Bahan yang diperlukan untuk melakukan pengujian ini adalah, biji sengon, pasir untuk media perkecambahan.

3.3. Cara Kerja
a.      Uji belah (uji tidak langsung)
1.      Menyiapkan 10 butir biji sengon diulang 3 kali (total 30 butir), kemudian merendam biji  dalam air hangat hingga kulitnya menjadi lunak.
2.      Setelah kulit menjadi lunak, membelah biji-biji tersebut, kemudian mengamati keadaan biji tersebut antara lain embrio, cadangan makanan (endosperm) dan bagian-bagian lainnya.
3.      Biji yang baik embrio dan cadangan makanan  berwarna putih kekuningan
4.      Menghitung  kondisi biji yang baik dan biji yang jelek
5.      Menghitung viabilitas biji dengan mengguanakan rumus :

Viabilitas biji = Jumlah biji – jumlah biji yang jelek      x 100 %
                                              Jumlah biji yang diamati 



b.      Menghitung kebersihan benih, kemurnian benih, keaslian benih dan kadar air benih
1.      Mengambil sampel benih tanpa diseleksi,misalnya  1-10 gram, memisahkan benih dari kotorannya (materi asing seperti sayap, sisa-sisa kulit dan lain-lain).
2.      Memisahkan benih-benih  dari spesies yang sama, tetapi varietas yang berbeda.
3.      Menimbang berat basah benih sampel.
4.      Mengeringakn  dalam oven sampel yang dimaksud selama  selang waktu (menit, jam, atau hari).
5.      Menimbang berat benih sampel yang dioven.

Data tersebut dapat untuk menghitung kebersihan benih, kemurnian benih, keaslian benih,jumlah benih per satuan  berat dan kadar air benih.

Kebersihan benih = Berat benih sampel – berat kotoran         x 100 %
                                            Berat benih sampel

Kemurnian benih = Berat benih sampel – Berat jenis lain       x 100 %
                                            Berat benih sampel

Keaslian benih = Berat benih sampel – Berat benih varietas lain  x 100 %
                                                     Berat benih sampel

Jumlah benih = Jumlah benih murni per satuan  berat (Butir/gr, Butir/kg, butir/ liter)

Kadar air benih        = Berat benih basah  - berat benih kering          x  100 %
(berdasarkan berat basah)                     Berat benih basah

Kadar air benih        = Berat benih basah – Berat benih kering          x 100 %
(berdasarkab berat kering)                      Berat benih kering
c. Uji langsung dengan mengecambahkan benih.
1. Menyiapkan masing-masing biji sengon sebanyak 25 butir yang kemudian direndam selama 24 jam yang bertujuan untuk mematakan dormansinya.
2.   Mengecambahkan benih tersebut pada media pasir.
3.   Bak kecambah yang telah ditanami dengan benih tersebut ditempatkan di tempat yang lembab dan terlindung dari cahaya matahari langsung, dibiarkan selama 1 minggu.
4.  Pada hari k 8 setelah perkecambahan, hitung persentase benih yang mampu berkecambah.
5. Selama masa perkecambahan, pemeliharaan dilakukan dengan penyiraman sesuai dengan kondisi media kecambah (diusahakan agar media kecambah selalu dalam keadaan lembab).


















BAB IV

  HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1      Hasil
  1. uji tidak langsung
  1. viabilitas biji
Biji
Ulangan 1
Ulangan 2
Ulangan 3

Baik
jelek
Baik
Jelek
Baik
Jelek
Sengon
7
3
8
2
8
2

·  Viabilitas biji Ulangan 1
= Jumlah biji  yang diamati – jumlah biji yang jelek      x 100 %
Jumlah biji yang diamati
          
 =  10–3  x 100 %
    10             
          = 70 %


·  Viabilitas biji ulangan 2
  =   10–2  x 100 %
        10       
 = 80 %


·  Viabilitas biji Ulangan 3
=   10–2  x 100 %
    10         
            = 80%


2. Kebersihan benih = Berat benih sampel – berat kotor    x 100 %
                      Berat benih sampel
         
=  10–0,16  x 100 %
        10           
                                          = 98,4  %

3. Kemurnian benih = Berat benih sampel – berat benih jenis lain   x 100 %
                      Berat benih sampel
         
=  10–0 x 100 %
       10
                                          = 100  %

4. Keaslian benih = berat benih sampel – berat benih varietas lain     x 100 %
                                                        Berat benih sampel
=   10–0   x 100 %
       10            
     = 100  %

5. Jumlah benih
   Jumlah benih murni persatuan berat = 30 butir/gram

6.      Kadar air benih (berdasarkan berat basah)
= berat benih basah – berat benih kering x 100 %
                   Berat benih basah

= 0,6-0,4 x 100 %
      0,6
= 33,33 %

7.      Kadar air benih (berdasarkan berat kering)
      =  berat benih basah– berat benih kering x 100 %
                    Berat benih kering

      =  0,6-0,4 x 100 %
         0,4
  = 50  %

B. Uji Langsung

Persentase benih berkecambah
Jenis benih
Persentase benih berkecambah pada hari ke
1
2
3
4
5
6
7
8
Sengon
0
0
0
2
5
5
5
5
  

4.2  Pembahasan
Pengujian benih secara tidak langsung pada pengamatan ini dilakukan dengan cara membelah biji setelah biji tersebut direndam dengan air. Pengamatannya dilakukan terhadap keadaan endosperm, warna endosperm, dan kondisi endosperm lainnya. pada tiga kali ulangan dengan kondisi endosperm berwarna kuning, kekuningan,  kuning  keputihan, kuning coklat, kuning kehijauan dan putih kekuningan. Sedangkan biji yang jelek dengan kondisi endosperm berwarna coklat tua, coklat tua layu, coklat tua keriput, coklat layu, coklat abu-abu dan abu-abu layu. Sehingga  diperoleh nilai viabilitas biji  pada ulangan 1 sebesar 71,42 %, ulangan 2 sebesar 57,14 %, ulangan 3 sebesar 85,71 %. Dari hal tersebut diatas dapat diketahui bahwa viabilitas biji tersebut baik untuk dikecambahkan, tetapi bila lingkungan tempat berkecambahnya kurang mendukung untuk berkecambah ada kemungkinan kecambah tersebut tidak dapat estabilish untuk keadaan berikutnya. biji yang jelek tersebut, diakibatkan karena pemanenan yang belum mencapai masa masak fisiologis yang maksimum, sehinga benih mudah rapu dan busuk karena kadar airnya masih relative tinggi. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa dalam pengambilan benih tersebut cukup baik dan tidak diletakkan pada sumber-sumber kotoran seperti tanah, semak dan sumber-sumber kotoran lainnya.
Menurut buku yang saya gunakan sebagai panduan mengatakan bahwa biasanya kadar air pada biji yang dipanen tepat pada waktu masak fisiologis, kadar air bjinya berkisar antara 20 – 25 % . jadi kadar air benih yang digunakn pada waktu percobaan terlalu kecil. Hal ini mungkin disebabkan biji yang digunakan sudah lewat masak fisiologis dan rontok ketanah dan kadar air biji dibiarkan turun.
 Pada pengujian kebersihan benih didapat nilai kebersihan benih sebesar 60 %, sedangkan pada pengujian kemurnian benih diperoleh nilai sebesar 100 %.  Nilai kebersihan dan kemurnian benih yang 100 % ini kemungkinan dikarenakan oleh tindakan praktikan  melakukan pencucian dan pemilihan biji terlebih dahulu sebelum dilakukan pengujian kebersihan dan kemurnian benih, akibatnya  tidak ada berat kotoran dan tidak ada berat jenis lain., sehingga nilai kebersihan  dan kemurnian benih yang didapat sebesar 100 %. Data yang lain yaitu jumlah benih  murni persatuan berat yaitu 30 butir/gram.
 Pada kadar air benih, dihitung berdasarkan  berat basah dan berat kering. Berdasarkan berat  basah didapat  nilai berat basah  33,33 %, dan berdasarkan berat kering diperoleh nilai berat kering sebesarnya 50 %. Nilai ketiga penimbangan  setelah pengovenan tersebut sama, hal ini terjadi karena oven yang rusak,karena oven tersebut tidak bisa panas lagi dan pada saat praktikan mau menimbang setelah 24jam, oven telah dimatikan sehingga kami tidak dapat menghitung berapa beratnya, sehingga hasil penimbangan  kurang atau tidak akurat.
Di dalam batas tertentu, makin rendah  kadar air benih makin lama daya hidup  benih tersebut. Kadar air optimum dalam penyimpanan  bagi sebagian besar benih adalah antara 6% – 8 %. Kadar air yang terlalui tinggi dapat menyebabkan benih berkecamabah sebelum ditanam. Sedang dalam penyimpanan menyebabkan naiknya  aktifitas pernapasan  yang dapat berakibat terkuras habisnya bahan cadangan makanan dalam benih, selain itu kadar air yang terlalu rendah  akan menyebabkan kerusakan bagi embrio. Dari hasil pengamatan,  kadar air berdasarkan berat basah sebesar 33,33 % sedangkan berdasarkan berat kering sebesar 50 %. Kadar air menunjukkan bahwa benih tersebut melebih kadar air optimum yang dapat menyebabkan benih cepat berkecambah dan benih ini tidak dapat disimpan karena dapat menyebabkan terkuras habisnya bahan cadangan makanan dalam benih.










        













BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN



*      Kesimpulan
Dari hasil pengamatan dan pembahasan maka dapat disimpulkan :
1.      Biji yang baik dengan kondisi endosperm berwarna kuning, kuning keputihan, kekuningan,  kuning coklat, kuning kehijauan, dan putih kekuningan.
2.      Tidak mengambil biji atau benih yang mengalami kerontokan, karena pada waktu itu masa masak fisiologis benih sudah menurun dan viabilitasnya juga belum maksimal
3.      Biji yang jelek dengan kondisi endosperm berwarna coklat tua, coklat tua layu, coklat tua keriput, coklat layu coklat abu-abu, dan abu-abu layu.
4.      Nilai viabilitas biji sebesar  ulangan 1 sebesar 71,42 %, ulangan 2 sebesar 57,14 %, ulangan 3 sebesar 85,71 %
5.      Kebersihan benih  60 %, Kemurnian benih 100 %, Jumlah benih per gram sebanyak 30 butir, Berat basah  33,33 %, Berat kering 50 %


*      Saran-saran
Dalam pelaksanaan praktikum sebaiknya para Co-ass turut memantau atau mendampingi  pekerjaan praktikan sehingga praktikan tidak menemui banyak kesalahan, selain itu para Co-ass lebih meningkatkan kedisiplinan sehingga dalam praktikum lebih serius dan tidak nyantai atau main-main. Selain itu Peralatan praktikum yang harus dilakukan perbaikan atau penggantian, dalam hal ini timbangan dan Oven..



 


DAFTAR PUSTAKA


Anonim, 2011. Penuntun praktikum Silvikultur. Jurusan kehutanan. Universitas Bengkulu. Bengkulu.
Anonim, 2002. Diktat perkuliahan Silvikultur. Jurusan kehutanan. Universitas Bengkulu. Bengkulu.
Baker Frederick S, 1992. Prinsip-prinsip Silvikultur. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Kamil, Julius,Ph.D, 1979, Teknologi benih. Angkasa Raya. Padang.

Marsono,Djoko.Dr.Ir. 1987. Prinsip-prinsp Silvikultur. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Suhardi,1986. Dasar-dasar Bercocok Tanam. Penerbit kanisius.Yogyakarta.
Sutopo,Lita. 1985. Teknologi Benih. Rajawali Press. Jakarta. 






ACARA 3
SUMBER BENIH
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. latar belakang
Sumber benih adalah suatu sumber (bisa berupa tempat, lokasi, pohon, tegakan) dimana benih itu diperoleh. Benih merupakan awal dari regenerasi suatu tegakan. Kualitas sumber benih merupakan  atau menunjukan kualitas dari keadaan tegakan yang akan dihasilkan. Selain itu keadaan kondisi benih juga berpengaruh terhadap keadaan tegakan yang dihasilkan.
Sumber benih pada dasarnya terdiri atas kebun benih, tegakan benih, APB, baru kemudian hutan alam atau tegakan sembarang dan pohon biji sembarang. Asal sumber benih akan bepengaruh pada kualitas tegakan.
Dalam memilih pohon yang akan dijadikan sebagai pohon benih sebaiknya kita benar-benar memperhatikan kondisi dari pohon tersebut apakah sudah sesuai dengan kriteria pohon benih. Kriteria pohon yang dapat dijadikan sumber benih antara lain adalah pohon memiliki pohon bebas cabang yang tinggi, pohon yang memiliki biji yang banyak, pohon memiliki batang yang lurus (pohon yang sempurna), tahan terhadap penyakit dan merupakan jenis yang komersil. Benih yang terbaik adalah yang berasal dari kebun benih  ( benih yang berasal dari kebun benih disebut benih yang berkualitas  = benih yang sudah diletahui sifat genetiknya ).

1.2. Tujuan
Untuk mengetahui pohon atau tegakan  yang dapat dijadikan sumber benih bagi perbanyakan tanaman kehutanan.

 


BAB II

  TINJAUAN PUSATAKA


Yang dimaksud dengan sumber benih adalah suatu sumber ( bisa berupa tempat, lokasi, pohon, tegakan ) dimana benih tersebut diperoleh.
            Macam- macam sumber benih :
1.        Hutan alam atau tegakan sembarang dan pohon biji.
Sumber benih yang berasal dari hutan alam adalah untuk jenis-jenis yang tumbuh asli pada suatu tempat ( sebaran alam ). Biasanya benih diambil dari pohon-pohon biji. Tegakan sembarang artingya benih tersebut diambil  dari tegakan. Sembarangan . jadi tegakan tersebut tidak direncanakan  sebelumnya sebagai tegakan benih, karena pohon penyusun tegakan tersebut  menghasilkan biji-biji yang cukup banyak, sehingga biji-biji tersebut dapat diambil dan kemudian diseleksi untuk kemudian dijadikan benih.
Pohon benih , berupa pohon yang meproduksi yang cukup banyak , bisas berupa pohon penyusun tegakan , pohon-pohon individu  (di perkarangan  dan di tepi jalan ) dan bisa juga pohon sebagai penyusun hutan baik hutan alam maupun hutan buatan. Umumnya pohon benih yang ditunjuk  tersebut mempunyai  kelebihan dibandingkan dengan pohon-pohon  lain yang sama spesiesnya, namun kualitasnya lebih baik.
Kualitas  yang dimaksud  dapat berupa sifat yang nampak ( fenotif ), misalnya kelurusan batang,kerampingan tajuk, tidak adanya percabangan yang mengarpu. dll . Apabila benih diperoleh dari pohon biji yang berfenotif yang baik, maka benih yang dihasilkan oleh pohon benih tersebut mestinya lebih baik dibandingkan dengan yang dihasilkan oleh tegakan sembarang.
2.        Areal produksi benih
Areal produksi benih , dapat berupa hutan alam dan hutan buatan yang penting spesiesnya tertentu  (spesies yang diingankan) , di situ dijumpai ada pohon –pohon penyusun tegakan/ hutan yang fenotifnya bagus-bagus, produksi buahnya banyak.

Dengan demikian ada beberapa kreteria APB :
1.      Areal yang cukup luas.
2.      Dijumpai jenis pohon induk yang kualitasnya baik.
3.      Jenisnya tertentu (sesuia dengan yang diinginkan )
4.      Produksi buahnya banyak.
5.      Kondisi tanahnya cukup baik.
6.      Kalau memungkinkan diketahui umurnya. (tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda).
7.      Iklim  sesuai yang ditandai oleh pertumbuhan tanaman yang bagus dan tanaman mau berbuah dan lain-lain.
Pada Areal produksi benih ini belum bisa dilihat sifat-sifat genetikanya dari benih yang dihasilkannya.
Areal produksi benih dapat dibedakan  dalam. :
Ø  Daerah plus, artinya didaerah penghasil benih tersebut sebagian besar atau banyak dijumpai pohon-pohon biji yang bekualitas bagus (plus), baik tajuk maupun percabangan yang ramping dan batang yang lurus.
Ø  Derah normal, bila daerah tersebut masih  banyak dijumpai pohon-pohon biji (pertumbuhan baik tajuknya banyak yang lebar dan ramping ataupun sifat-sifat lain).
Ø  Daerah minus, bila pada daerah tersebut  sangat jarang dijumpai pohon biji yang kualitasnya bagus

3.  Tegakan benih
Tegakan benih adalah merupakan perkembangan berikutnya  dari APB, terutama APB yang berupa tegakan.
Pada tegakan benih telah diupayakan perlakuan  untuk mengoptimalkan produktivitas benih yang dihasilakn  ( baik dalam jumlah maupun kualitasnya).
Tegakan benih mempunyai ciri-ciri :
Ø  Pohon sejenis  dan hampir seragam.
Ø  Luasnya cukup dan dekat dengan jalan.
Ø  Kualitas pohonnya rata-rata baik.
Ø  Kondisi tanah baik ( rata- landai, aerasi tanahnya baik dan subur)
Ø  Pertumbuhan pohonnya baik.
Ø  Iklimnya sesuai.
Ø  Umurnya tidak terlalu tua dan terlalu mudah.
Ø  Bila memungkinkan  dapat diairi.
Ø  Tidak ada gejala serangan hama dan penyakit pada pohon penyusun tagakan.
Sehubungan dengan umur pohon, perlu diketahui bahwa pohon induk  tua biasanya menghasilkan buah yang kecil bahkan sering buah yang dihasilakan sudah kurang viabilitasnya.sedangkan pohon yang terlalu muda, buah umumnya besar-besar, namun sering ditemui vigoritas keturunannya  baik.
4.      Kebun benih.
Kebun benih keberadaannya sudah direncanakan sebelumnya dengan matang, jenisnya tertentu ( sesuai  dengan jenis yang dikehendaki), umurnya sama, benihnya berasal dari pohon induk yang diketahui sifatnya (melalui berbagai jenis uji genetika) sehingga sudah diketahui sifat-sifat genetikanya. ( Anwar, 2003 )
Persyaratan lokasi kebun benih:
Ø   Lokasinya mudah dijangkau, datar landai.
Ø   Ada jalan angkutan.
Ø   Luasnya cukup ( meliputi luas efektif untuk kebun benih dan untuk jalur isolasi).
Ø   Iklminya sesuai dengan persyaratan jenis yang ditanam.
Ø   Lahann subur dan cocok untuk spesies tersebut.
Ø   Ketinggian tempatnya sesui dengan yang dituntut oleh jenis tersebut.
Ø   Bila memungkinkan bisa diairi.
Ø   Terhindar dari ganguan (hewan , manusia, H/P)
Ø   Jauh dari kemungkian terkena bencana alam.

Persyaratan manajemen pengolaan kebun benih :
·         Harus ditangani oleh orang yang ahli pemulian pohon.
·         Pertamanan uji mengguanakan metode dan rancangan yang tepat dan benar.
·         Administrasi dan sistem pengarsipan yang baik, sehingga dapat diikuti dari waktu  ke waktu.
·         Pengawasannya ketat  dan dijaga jangan sampai terjadi cross polination  dengan pohon diluar kebun benih.
·         Dilengkapi sarana dan prasarana yang lengakap. ( Baker, 1992 )





 

 

 

 

 


BAB III

METODOLOGI


3.1.  Waktu dan Tempat Praktikum
Lokasi                 :  Belakang GB 1
Tanggal               :  Mei 2012
3.2.  Bahan dan Alat
Bahan  : Pohon dan tegakan hutan di belakang GB 1
Alat     : D-tape, haga meter.
3.3.  Cara Kerja
  1. Membuat plot (ukuran 10 X10 m) , kemudian petakan tegakan yang ada dalam plot dan proyeksikan tajuknya.
  2. Mencatat jenis pohon yang ada dalam plot,ukur tinggi dan diameternya.
  3. Mencatat kondisi pohon/tegakan , sesuaikan dengan kondisi yang dibutuhkan untuk sumber benih seperti : berbunga, berbuah, bentuk/kondisi tajuk,percabangan (kriteria pohon unggul).
  4. Membuat profil tegakannya pada salah satu sisi plot.















BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1. Hasil
Hasil pengamatan ( plot 10 x 10 m)
No
Nama jenis
Tinggi (m)
Diameter (cm)
Keliling
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Sengon
Sengon
Sengon
Sengon
Sengon
Sengon
Sengon
X
Sengon
x
15
5,5
17
14
14
12
17
9
20
8
33,12
20,7
28
22,6
24,5
23,5
30,2
22,2
46,1
31,5
104
65
88
71
77
74
95
70
145
99


Peta tegakan











Proyeksi vertikal















                                                                         

 

Proyeksi horizontal



 




 

 







4.2. Pembahasan

Dari praktikum  yang telah dilakukan, pengamatan pada tegakan dan analisa data, maka  diketahui pada plot 10 x10 yang dibuat terdapat  10 pohon yaitu 8 pohon Sengon dan 2 pohon spesies x. Pohon yang memiliki kondisi fisik yang terbaik adalah pohon nomor  9 yaitu Sengon, dengan  tinggi 20 meter, diameter 46,1 cm. Dengan kondisi fisiknya yang sangat tinggi maka pohon ini mandapatkan cahaya matahari yang lebih banyak dari pohon  yang lain disekitarnya.yang lainnya antara lain  batangnnya lurus, bagus,tinggi dan percabangannya sedikit,seangkan pohon yang memiliki fisik yng kurang baik terdapat pada pohon nomer 2 yaitu pohon sengon dengan diameter 20,7 dan tinggi hanya 5,5 meter.

            Namun pada lokasi ini tidak bisa dijadikan areal produksi benih, areal ini dikarenakan pada pohon-pohon di dalam plot tersebut banyak terdapat pohon-pohon yang bercabang, tegakan yang tidak lurus dan jarak tanam yang terlalu rapat sehingga peluang terjadinya imbriding sanagt  besar dmana dibawah tajuk-tajuknya tidak ditemukan anakan sengon dengan kondisi fisik terdapat luka-luka di beberapa batang batang sengon dan terdapat batang yang terserang penyakit seperti bercak-bercak dan pohonnya sedang berbunga.

           












BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Dari hasil pengamatan, maka dapat dimpulkan bahwa :

  1. Pada pengamatan yang di lakukan di belakang GB 1 universitas bengkulu di dapat beberapa egakan yang masuk di dalam ploy 10 x 10 m yang terdiri dara 8 jenis pohon sengon dan 2 jenis pohon spesies x

b.      Lokasi pengamatan yang di lakukan di GB1 universitas bengkulu tidak cocok di gunakan sebagai lahan untuk menghasilkan benih atau sebagai lahan sumber bernih, ini dikarenakan tegakan pohon yang masih terlalu kecil dan tidak memenuhi keriteria sebagai pohon penghasil sumber benih.




5.2. Saran
Pemilihan lokasi untuk praktikum sumber benih hendaknya pada lokasi yang memang ada pohon/ tegakan yang sedang berbunga sehingga data yang diperoleh dapat di pertanggung jawabkan sesuai keadaan dilapangan, alat alat dalam membantu pengukuran baik tinggi maupun diameter seharusnya disesuaikan dengan jumlah kelompok yang ada sehingga praktikan tidak perlu menunggu berlama-lama pemakaian alat secara bergiliran dengan kelompok yang lain. Dan sebaiknya pelaksanaan praktikum dilakukan pada hari selain hari minggu mengingat adanya keperluan yang harus dilakukan setiap hari minggu.

 










 






DAFTAR PUSTAKA


Anonim. 2011. Penuntun praktikum Silvikultur. Jurusan Kehutanan. Fakultas Pertanian. Universitas Bengkulu, Bengkulu.

Anwar, G. 2003. Buku Ajar Silvikultur. Jurusan Kehutanan. Fakultas Pertanian. Universitas Bengkulu, Bengkulu.

Baker, S.F. Dkk. 1992. Prinsip – Prinsip Silvikultur. Gajah Mada University Press. Yogyakarta

 













Tidak ada komentar:

Poskan Komentar